Fraktur Colles

22 Okt

Pendahuluan

Fraktur radius distal merupakan 15% dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa. Abraham Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius distalis pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles (Armis, 2000). Ini adalah fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pascamenopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang (Apley & Solomon, 1995).

Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan berusaha menahan badan dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan ke daerah metafisis radius distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.

 

Definisi

  • Fraktur radius distal merupakan 15% dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa. Fraktur Colles adalah fraktur melintang pada radius tepat di atas pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal. Pertama kali diuraikan oleh Abraham Colles pada tahun 1814. Fraktur ini paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca menopause. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang.
  • Adalah fraktur metafisis distal radius yang sudah menaalami osteoporosis, garis fraktur transversal, komplit, jaraknya 2-2,5 cm proximal garis sendi, bagian distal beranjak ke dorsal dan angulasi ke radial serta fraktur avulsi dari processus styloideus ulna (Abraham Colles 1814).

 

Tersering pada usia dewasa, lebih dari 50 tahun, wanita, karena proses penuaan, postmenopause, osteoporosis. Terjadi karena jatuh bertumpu pada tangan terbuka. Terjadi fraktur transversal radius distal 2 cm, dengan fragmen distal deviasi ke dorsum manus.

 

Epidemiologi

Fraktur Colles lebih sering ditemukan pada wanita dan jarang ditemui sebelum usia 50 tahun. Secara umum insidennya kira-kira 8-15% dari seluruh fraktur. Insidensi fraktur Colles sebelum usia 50 tahun sama antara pria dan wanita. Setelah usia di atas 50 tahun, fraktur ini lebih banyak ditemukan pada wanita dengan rasio wanita dibandingkan pria adalah 5:1. Fraktur Colles pada pergelangan tangan sisi kanan lebih sering dibandingkan sisi kiri. Usia tersering yang menderita fraktur Colles adalah 50-59 tahun.

 

Etiologi dan Faktor Resiko

  1. Usia lanjut
  2. Postmenopause
  3. Massa otot rendah
  4. Osteoporosis
  5. Kurang gizi
  6. Olaraga seperti sepakbola, skating, skateboarding atau bersepeda
  7. Kekerasan
  8. ACR (albumin-creatinin ratio) yang tinggi, efek ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan sekresi 1,25-dihidroksivitamin D, yang menyebabkan malabsoprsi kalsium.

 

Patogenesis

Umumnya fraktur distal radius terutama fraktur Colles’ dapat timbul setelah penderita terjatuh dengan tangan posisi terkedang dan meyangga badan. Pada saat terjatuh sebahagian energi yang timbul diserap oleh jaringan lunak dan persendian tangan, kemudian baru diteruskan ke distal radius, hingga dapat menimbulkan patah tulang pada daerah yang lemah yaitu antara batas tulang kortikal dan tulang spongiosa.

 

Manifestasi Klinis

Kita dapat mengenali fraktur ini – seperti halnya Colles jauh sebelum radiografi diciptakan – dengan sebutan deformitas garpu makan malam, yaitu penonjolan punggung pergelangan tangan dan depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin hanya terdapat nyeri tekan lokal dan nyeri bila pergelangan tangan digerakkan. (Apley & Solomon, 1995) Selain itu juga didapatkan kekakuan, gerakan yang bebas terbatas, dan pembengkakan di daerah

yang

terkena.

 

Gambar 1. Mekanisme trauma pada fraktur Colles

 

 


Gambar 2. Deformitas garpu makan malam pada fraktur Colles

 

Diagnosis

Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak menimbulkan kesulitan. Secara klinis dengan mudah dapat dibuat diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis patah tulang.

Proyeksi AP dan lateral biasanya sudah cukup untuk memperlihatkan fragmen fraktur. Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat remuknya fraktur kominutif dan mengetahui letak persis patahannya.

Pada gambaran radiologis dapat diklasifikasikan stabil dan instabil

  • Stabil bila hanya terjadi satu garis patahan.
  • Instabil bila patahnya kominutif dan “crushing” dari tulang cancellous.

 


Gambar 3. Fraktur Colles – This term is not used in young adults; they are simply named distal end radius fracture

 

Dinner fork deformity merupakan temuan klinis klasik dan radiologi pada fraktur colles. Dislokasi dan angulasi dorsal dari fragmen distal radius mengakibatkan suatu bentuk garis pada proyeksi lateral yang menyerupai kurva garpu makan malam.

 

Penatalaksanaan

  1. Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur dibebat dalam slab gips yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah dan pergelangan tangan dan dibalut kuat dalam posisinya.
  2. Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan dipegang dengan erat dan traksi diterapkan di sepanjang tulang itu (kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan tangan untuk melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya dengan menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi pergelangan tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar dan pronasi. Posisi kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi memuaskan, dipasang slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari; cukup 20 derajat saja pada tiap arah.

 

Gambar 4.    Reduksi dan Pembebatan pada fraktur Colles

Reduksi : (a) Pelepasan impaksi, (b) Pronasi dan pergeseran ke depan, (c) Deviasi ulnar.

Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang basah, (f) slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras

 

Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi. Latihan bahu dan jari segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari membengkak, mengalami sianosis atau nyeri, harus tidak ada keragu-raguan untuk membuka pembalut.

Setelah 7-10 hari dilakukan pengambilan sinar-X yang baru. Pergeseran ulang sering terjadi dan biasanya diterapi dengan reduksi ulang – sayangnya sekalipun manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi.

 

Gambar 5.    (a) Film pasca reduksi, (b) Gerakan-gerakan yang perlu dipraktekkan oleh pasien secara teratur.

 

Fraktur menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan pembalut kain krep sementara.

 

  1. Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin dipertahankan dengan gips; untuk keadaan ini sebaiknya dilakukan fiksasi luar.

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: