Pertusis

3 Jan

Pertusis

 

Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan ” Batuk Seratus Hari ” adalah penyakit infeksi saluran napas yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam, berbunyi melengking. Penularan umumnya terjadi melalui udara (batuk/bersin). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri, dilakukan sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang waktu penyuntikan dua bulan.

Pertusis dapat diderita oleh orang dari semua kelompok usia, tetapi mungkin serius sekali pada bayi. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi pada usia dua, empat dan enam bulan. Injeksi booster diperlukan untuk anak yang berusia 4 tahun serta anak remaja dan orang dewasa yang sedang tinggal dan bekerja dengan anak-anak kecil.

 

Sinonim

Batuk rejan, “Whooping cough

 

Pendahuluan

Pertusis atau yang lebih dikenal orang awam sebagai “batuk rejan” atau “batuk 100 hari” merupakan salah satu penyakit menular saluran pernapasan yang sudah diketahui adanya sejak tahun 1500-an. Penyebab tersering dari pertusis adalah kuman Gram negatif Bordetella pertussis.

Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella pertusis. Disebut juga Whooping cough atau batuk rejan. Kuman sejenis, yaitu Bordetella parapertusis dan virus seperti adenovirus dan virus respiratory synsystial dapat menyebabkan gambaran yang serupa.

Kuman berkembang biak di epitel trakea dan bronki serta merangsang ujung-ujung saraf. Anak infeksius selama 2 minggu sampai 3 bulan setelah terjadinya penyakit.

 

Definisi

Pertusis (Batuk Rejan, Whooping Cough) adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang sangat menular dan menyebabkan batuk yang biasanya diakhiri dengan suara pernafasan dalam bernada tinggi (melengking).

 

Pertusis bisa terjadi pada usia berapapun, tetapi 50% kasus ditemukan pada anak berumur di bawah 4 tahun. Serangan pertusis yang pertama tidak selalu memberikan kekebalan penuh. Jika terjadi serangan pertusis kedua, biasanya bersifat ringan dan tidak selalu dikenali sebagai pertusis.

 

Etiologi

Penyebab pertusis adalah Bordetella pertussis atau Hemophilus pertussis.

 

Insiden dan Epidemiologi

Pertusis dapat mengenai semua golongan umur. Tidak ada kekebalan pasif dari ibu. Terbanyak terdapat pada umur 1-5 tahun, lebih banyak laki-laki daripada wanita. Cara penularannya adalah kontak dengan penderita pertusis. Imunisasi sangat mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan pertusis.

Cara penularan ialah kontak dengan dengan penderita pertusis. imunisasi sangat mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan pertusis. oleh karena itu di negara di mana imunisasi belum merupakan prosedur rutin masih banyak didapatkan pertusis. Imunitas setelah imunisasi tidak berlangsung lama. Dilaporkan terjadinya endemik pertusis di antara petugas rumah sakit yang sebelumnya telah mendapat imunisasi terhadap pertusis dan kemudian mendapat infeksi karena merawat penderita pertusis.

Antibodi dari ibu (transplasental) selama kehamilan tidaklah cukup untuk mencegah bayi baru lahir terhadap pertusis. Pertusis yang berat pada neonatus dapat ditemukan dari ibu dengan gejala pertusis ringan. Kematian sangat menurun setelah diketahui bahwa dengan pengobatan Eritromicin dapat menurunkan tingkat penularan pertusis karena biakan nasofaring akan negatif setelah 5 hari pengobatan.

 

Patologi

Lesi biasanya terdapat pada bronkus dan bronkiolus, namun mungkin terdapat perubahan-perubahan pada selaput lendir trakea, laring, dan nasofaring. Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan saluran udara sehingga pembentukan lendir semakin banyak. Pada awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket.

 

Gambaran Klinik

Masa inkubasi antara 7-14 hari. Penyakit ini berlangsung selama 6 minggu atau lebih dan dapat dibedakan dalam 3 stadium, yaitu :

  1. Stadium Kataralis

    Selama 7-14 hari, ditandai dengan adanya batuk-batuk ringan, terutama malam hari, pilek dan demam ringan. Sangat mirip dengan flu.

  2. Stadium Spasmodik/Paroksismal

    Selama 2-4 minggu. Batuk masih sangat hebat. Batuk sedemikian hebatnya hingga penderita gelisah dan sianosis. Serangan batuk ini panjang dan tidak ada inspirium di antaranya, kemudian penderita menarik nafas panjang yang berbunyi “whoop” – seringkali disertai muntah. Pada anak-anak dapat sampai terberak-berak dan terkencing-kencing. Akibatnya tekanan waktu batuk mungkin menimbulkan perdarahan subkonjungtiva dan epistaksis. Tampak berkeringat, pembuluh darah leher dan muka lebar.

    Pengobatan pada stadium ini jarang mengubah gejala klinik.

  3. Stadium Konvalesens

    Selama kira-kira 2 minggu. Batuk-batuk mulai mereda, muntah-muntah berkurang dan nafsu makan timbul kembali. Kadang batuk terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran pernafasan.

 

Gambar 1. Anak dengan Pertusis

 

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium. Pada anamnesis penting ditanyakan adanya riwayat kontak dengan pasien pertusis, adalah serangan khas yaitu paroksimal dan bunyi whoop yang jelas. Perlu pula ditanyakan mengenai riwayat imunisasi. Gejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisis tergantung dari stadium saat pasien diperiksa.

Dapat dibuat dengan memperhatikan batuk yang khas bila penderita datang pada stadium spasmodik. Curiga pertusis jika anak batuk berat lebih dari dua minggu, terutama jika penyakit diketahui terjadi lokal.

Tanda diagnostik yang paling berguna :

  • Batuk paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi, sering disertai muntah.
  • Perdarahan sub konjungtiva.
  • Anak tidak atau belum lengkap diimunisasi terhadap pertusis.
  • Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, malahan batuk yang diikuti oleh berhentinya napas atau sianosis, atau napas berhenti tanpa batuk.

 

Diagnosis Banding

Batuk spasmodik pada bayi perlu dipikirkan Bronkiolitis, Pneumonia bakterial, Sistik fibrosis, Tuberkulosis dan penyakit lain yang menyebabkan limfadenopati dengan penekanan diluar trakea dan bronkus.

Pada umumnya pertusis dapat dibedakan dari gejala klinis dan laboratorium. Benda asing juga dapat menyebabkan batuk paroksismal, tetapi biasanya gejalanya mendadak dan dapat dibedakan dengan pemeriksaan radiology dan endoskopi.

Infeksi B. parapertussis, B. bronkiseptika dan Adenovirus dapat menyerupai sindrom klinis B. pertussis. Dapat dibedakan dengan isolasi kuman penyebab.

 

Komplikasi

  1. Alat pernafasan

    Dapat terjadi otitis media (sering pada bayi), bronkitis, bronkopneumonia, atelektasis yang disebabkan sumbatan mukus, emfisema (dapat juga terjadi emfisema mediastinum, leher, kulit pada kasus yang berat), bronkiektasis, sedangkan tuberkulosis yang sebelumnya telah ada dapat menjadi bertambah berat.

  2. Alat pencernaan

    Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi, prolapses rectum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intraabdominal, ulkus pada ujung lidah karena lidah tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk, stomatitis.

  3. Susunan saraf

    Kejang dapat timbul karena ganguan keseimbangan elektrolit akibat muntah-muntah. Kadang-kadang terdapat kongesti dan edema otak, mungkin pula terjadi perdarahan otak.

  4. Lain-lain

    Dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis, hemoptisis, dan perdarahan sub konjungtiva.

 

Terapi

Jika penyakitnya berat, penderita biasanya dirawat di rumah sakit. Mereka ditempatkan di dalam kamar yang tenang dan tidak terlalu tenang. Keributan bisa merangsang serangan batuk. Bisa dilakukan pengisapan lendir dari tenggorokan. Pada kasus yang berat, oksigen diberikan langsung ke paru-paru melalui selang yang dimasukkan ke trakea.

Untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah dan karena bayi biasanya tidak dapat makan akibat batuk, maka diberikan cairan melalui infus. Gizi yang baik sangat penting, dan sebaiknya makanan diberikan dalam porsi kecil tetapi sering. Untuk membasmi bakteri, biasanya diberikan antibiotik.

  1. Antibiotik
  • Beri Eritromisin oral (50 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 4 dosis) selama 10 hari atau jenis makrolid lainnya. Hal ini tidak akan memperpendek lamanya sakit tetapi akan menurunkan periode infeksius.

    Eritromisin juga menggugurkan atau menyembuhkan pertusis bila diberikan dalam stadium kataralis, mencegah dan menyembuhkan pneumonia dan oleh karena itu sangat penting dalam pengobatan pertusis khususnya pada bayi muda.

  • Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 4 dosis.
  • Lain-lain
  1. Rovamisin
  2. Kotrimoksazol
  3. Kloramfenikol
  4. Tetrasiklin.

 

  1. Oksigen

    Oksigen diberikan pada distres pernapasan akut/kronik.

     

  2. Ekspektoransia dan mukolitik.
  3. Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk yang hebat sekali.
  4. Luminal sebagai sedative.

     

Pencegahan

Tidak ada imunitas terhadap pertusis. Pencegahan dapat dilakukan secara aktif dan secara pasif. Secara aktif ialah dengan memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit dibagi dalam. 3 dosis dengan interval 8 minggu. Penyelidikan imunologis membuktikan seorang neonatus yang diberikan vaksin pertusis pada umur 1-15 hari dapat membentuk antibodi. Oleh karena itu sebenarnya vaksin pertusis telah dapat diberikan pada masa neonatus dan kemudian disusul dengan pemberian vaksin DPT.

  1. Imunisasi

    Vaksin pertusis merupakan bagian dari imunisasi pada masa kanak-kanak (biasanya dalam bentuk vaksin DPT).

 

Prognosis

Bergantung kepada ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan saraf yang sangat berbahaya, khususnya pada bayi dan anak kecil.

 

Kesimpulan

Pertusis merupakan salah satu penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, disebabkan terutama oleh Bordetella pertussis. Pertusis ditandai dengan batuk lama dan kadang-kadang terdengar seperti menggonggong (whooping cough) dan episode diakhir dengan ekspulsi dari secret trakea, silia lepas dan epitel nekrotik.

Pertusis sering menyerang bayi dan anak-anak kurang dari 5 tahun, terutama yang belum diimunisasi lebih rentan, demikian juga dengan anak lebih dari 12 tahun dan orang dewasa.

Stadium penyakit pertusis meliputi 3 stadium yaitu kataral, paroxsismal, dan konvalesen. Masing-masing berlangsung selama 2 minggu. Pada bayi, gejala menjadi lebih jelas justru pda stadium konvalesen. Sedangkan pada orang dewasa mencapai puncaknya pada stadium paroxsismal.

Diagnosa pertusis dengan gejala klinis memuncak pada stadium paroksismal, riwayat kontak dengan penderita pertusis, kultur apus nasofaring, ELISA, foto thorax.

Terapi yang dapat diberikan antibiotik Eritromisin 50 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis selama 14 hari, dan suportif.

Prognosis baik dengan penatalaksanaan yang tepat dan cepat. Kematian biasanya terjadi karena ensefalopati dan pneumonia atau komplikasi penyakit paru yang lainnya.

 

 

 

 

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: