Demam Berdarah Dengue

9 Jan

Pendahuluan

Infeksi virus dengue merupakan suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus, Family Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotype yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, melalui perantara nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Keempat serotipe dengue terdapat di Indonesia, DEN-3 merupakan serotipe dominan dan banyak berhubungan dengan kasus berat, diikuti serotipe DEN-2. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Virus dengue menyebabkan spektrum penyakit yang bervariasi dari infeksi yang tidak menimbulkan gejala sampai demam ringan dan dapat menyebabkan gejala yang lebih berat seperti demam berdarah dengue (DBD) dan dengue syok sindrom (DSS).

Viremia atau adanya virus dalam aliran darah akan berlangsung selama 1 minggu. Pada awal penyakit akan dibentuk imunoglobulin M (IgM) anti dengue, tetapi hanya dalam waktu singkat. Selanjutnya akan dibentuk imunoglobulin G (IgG).

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis, timbul sepanjang tahun dengan ledakan epidemi hebat setiap 5 tahun. Angka kejadian penyakit DBD masih cenderung meningkat dari tahun ke tahun sebaliknya angka kematian telah menurun sejak tahun delapan puluhan, akan tetapi angka kematian DBD berat/DSS masih tetap tinggi. Meskipun penyakit DBD bersifat self limitting disease, akan tetapi perjalanan penyakitnya sukar diramalkan sehingga pengamatan klinik yang jeli mutlak diperlukan untuk mengenal secara dini penyakit ini. Penderita yang diduga demam dengue atau DBD biasanya dianjurkan melakukan pemeriksaan hematologi secara serial untuk mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya renjatan atau perdarahan yang lebih lanjut.

Di Indonesia penderita DBD terbanyak adalah anak berumur 5-14 tahun.

Definisi

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam manifestasi perdarahan, dan bertendensi mengakibatkan rejatan yang dapat menyebabkan kematian.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah demam berdarah mendadak 2-7 hari disertai dengan keluhan seperti anoreksia, sakit kepala, nyeri otot tulng atau sendi, mual dan muntah.

 

Gambar 1. Perjalanan Penyakit DBD

DBD pada umumnya menyerang anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi pada kelompok umur dewasa.

Penegakkan diagnosis DBD (secara klinis) sesuai dengan kriteria WHO, sekurang-kurangnya memerlukan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan trombosit dan hematokrit secara berkala. Sedangkan untuk penegakkan diagnosis laboratoris DBD diperlukan pemeriksaan serologis (uji HI [haemaglutination inhibition test]) atau ELISA (IgM/IgG) yang pada saat ini telah tersedia dalam bentuk dengue rapid test (misalnya dengue rapid strip test), PCR (polymerase chain reaction) atau isolasi virus.

Gambar 2. Nyamuk Aedes aegypti

Table 1. Kriteria Diagnosis Klinis DBD WHO 1986.

  1. Klinis

    Gejala klinis berikut harus ada, yaitu :

  • Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
  • Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan :
    • Uji bendung positif
    • Petekie, ekimosis, purpura
    • Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
    • Hematemesis dan/atau melena
  • Disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali)
  • Syok, ditandai dengan nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan tekanan nadi (≤ 20 mmHg), hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, Capillary Refill Time memanjang (> 2 detik) dan pasien tampak gelisah.
  1. Laboratorium
  • Trombositopenia (100.000/µL atau kurang)
  • Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler, dengan manifestasi sebagai berikut :
    • Peningkatan hematokrit 20% dari nilai standar
    • Penurunan hematokrit 20% setelah mendapat terapi cairan
    • Efusi pleura/perikardial, ascites, hipoproteinemia

Dua kriteria klinis pertama ditambah satu dari kriteria laboratorium (atau hanya peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan diagnosis kerja DBD.

Gambar 3. Salah satu gejala demam berdarah adalah munculnya ruam pada kulit

Gambar 4. Uji Torniquet Positif

Pemeriksaan Penunjang

  1. Laboratorium
  • Hematologi Serial

    Nilai hematokrit biasanya mulai meningkat pada hari ketiga dari perjalanan penyakit dan makin meningkat sesuai dengan proses perjalanan penyakit DBD. Peningkatan hematokrit merupakan manifestasi hemokonsentrasi yang terjadi akibat kebocoran plasma ke ruang ekstravaskular disertai efusi cairan serosa, melalui kapiler yang rusak. Akibat kebocoran ini volume plasma menjadi berkurang yang dapat mengakibatkan terjadinya syok hipovolemik dan kegagalan sirkulasi.

    Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih (misalnya dari 35% menjadi 42%) mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. Nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan.

Gambar 5. Limfosit Plasma Biru

  1. Foto Roentgent

    Gambar 6. Foto Toraks Pasien DBD Derajat III

Derajat Penyakit

Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam empat derajat (pada setiap derajat sudah ditemukan trombositopenia dan hemokonsentrasi).

  • Derajat I

    Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji bendung.

  • Derajat II

    Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan/atau perdarahan lain.

  • Derajat III

    Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah.

  • Derajat IV

    Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

Uji Torniquet dinyatakan positif jika terdapat 10 atau lebih petekie pada seluas 1 inci persegi (2,5 x 2,5 cm) di lengan bawah bagian depan (volar) dekat lipat siku (fossa cubiti).

Diagnosis Banding

Demam pada fase akut mencakup spektrum infeksi bakteri dan virus yang luas. Pada hari-hari pertama diagnosis DBD sulit dibedakan dari Morbili dan Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) yang disertai demam. Pada hari demam ke 3-4, kemungkinan diagnosis DBD akan lebih besar, apabila gejala klinis lain seperti manifestasi perdarahan dan pembesaran hepar menjadi nyata. Kesulitan kadang-kadang dialami dalam membedakan syok pada DBD dengan sepsis; dalam hal ini trombositopenia dan hemokonsentrasi di samping penilaian gejala klinis lain seperti tipe dan lama demam dapat membantu.

Tatalaksana

Pada dasarnya pengobatan penderita DHF/DSS bersifat simtomatik dan suportif. Keberhasilan tatalaksana DBD terletak pada bagaimana mendeteksi secara dini fase kritis, yaitu saat suhu tubuh turun (the time of defervescene) yang merupakan fase awal terjadinya kegagalan sirkulasi, dengan melakukan observasi klinis disertai pemantauan perembesan plasma dan gangguan hemostasis. Prognosis DBD terletak pada pengenalan awal terjadinya perembesan plasma yang dapat diketahui dengan dari peningkatan kadar hematokrit dan penurunan jumlah trombosit. Fase kritis pada umumnya terjadi pada hari sakit ke tiga. Penurunan jumlah trombosit sampai < 100.000/µL atau 1-2 trombosit/LBP terjadi sebelum peningkatan hematokrit dan sebelum terjadi penurunan suhu. Peningkatan hematokrit ≥ 20% mencerminkan perembesan plasma dan merupakan indikasi untuk pemberian cairan. Pemberian cairan awal sebagai pengganti volume plasma dapat diberikan larutan garam isotonic atau Ringer Laktat, yang kemudian dapat disesuaikan dengan berat ringan penyakit. Pada DBD derajat I dan II, cairan intravena dapat diberikan selama 12-24 jam. Perhatian khusus pada kasus dengan peningkatan hematokrit yang terus menerus dan penurunan jumlah trombosit < 50.000/
µL.

Secara umum pasien DBD derajat I dan II dapat dirawat di Puskesmas, Rumah Sakit tipe D, C dan ruang rawat sehari di Rumah Sakit B dan A.

  1. Tatalaksana Kasus Tersangka DBD

    Gambar 7. Tatalaksana Kasus Tersangka DBD

  1. Tatalaksana DBD tanpa Renjatan

    Gambar 8. Tatalaksana Kasus DBD Derajat 1 dan Derajat II

    Gambar 9. Tatalaksana Kasus DBD derajat II dengan peningkatan hemokonsentrasi ≥ 20%

  2. Tatalaksana DBD dengan Syok
  • Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menit secara nasal.
  • Berikan 20 mL/kgBB larutan kristaloid seperti Ringer Laktat/Asetat secepatnya
  • Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20 mL/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberian koloid 10-20 mL/kgBB/jam maksimum 30 mL/kgBB/24 jam.
  • Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menurun pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi, berikan transfusi darah/komponen.
  • Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam. Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalu banyak daripada pemberian yang terlalu sedikit.

Gambar 10. Tatalaksana Sindrom Syok Dengue

Prognosis

Penyebab kematian penderita DBD adalah :

  1. Overhidrasi
  2. Perdarahan pada DBD
  3. DBD Ensefalopati
  4. Prolong Shock

Table 2. Kriteria Memulangkan Pasien

  • Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
  • Nafsu makan membaik
  • Tampak perbaikan secara klinis
  • Hematokrit stabil
  • Tiga hari setelah syok teratasi
  • Jumlah trombosit > 50.000/ µL
  • Tidak dijumpai distress pernafasan (akibat efusi pleura atau asidosis)


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: